Teknik Pengawetan Bambu


Kelangkaan kayu dan mahalnya material bangunan semisal batu bata dan beton membuat eksistensi bambu kembali diperhitungkan di dunia konstruksi. Namun, faktanya, bambu cukup rentan dari segi ketahanan. Kumbang bubuk, rayap, jamur, dan mikroorganisme laut menjadi musuh biologis bambu. Kumbang bubuk menyukai zat glukosa / rasa manis yang terkandung dalam bambu. Bambu juga tidak tahan air hujan dan api. Sistem pengawetannya pun masih tradisional.

Namun, seiring perkembangan zaman, dibutuhkan teknik pengawetan bambu yang lebih metodologis agar bambu bisa bermanfaat secara optimal. Pengawetan bambu sistem konvensional Metode ini biasanya dilakukan oleh petani bambu yaitu dengan merendam bambu di kolam air tawar, sungai, air payau atau air laut selama beberapa bulan.

Cara ini bisa mengurangi serangan kumbang bubuk karena rasa asin yang ditimbulkan. Namun, ketika diangkat dari perendaman, bambu akan mengeluarkan bau tak sedap. Tekstur dan warna juga sering rusak. Metode berikutnya yaitu curing (pengasapan). Bambu diletakkan di atas tungku selama waktu tertentu sampai batang bambu menghitam. Dengan cara ini, bambu yang bengkok bisa diluruskan atau sebaliknya, sesuai profil yang dibutuhkan. Rasa pahit akibat selulosa bambu yang berubah jadi karbon tidak disukai kumbang bubuk. Cara lainnya, melaburi batang bambu dengan kapur tohor sehingga memperlambat penyerapan air dan menahan dari serangan jamur.

Pengawetan nonkimiawi ini sebenarnya cukup ramah lingkungan, tidak butuh banyak biaya dan dapat dilakukan tanpa peralatan khusus. Hanya saja, kurang efektif dan efisien, tidak seimbang dengan kecepatan permintaan pasar. Pengawetan bambu secara kimiawi Metode ini bertingkat, mulai dari yang paling sederhana hingga memakan biaya dan memerlukan instalasi khusus.

Prinsipnya sama, yaitu adanya proses difusi di mana minyak/pengawet yang dicerapkan pada batang bambu akan mendesak keluar cairan alami yang terkandung dalam batang bambu hingga bambu relatif lebih padat/kering. Semakin canggih prosesnya, semakin sedikit kadar air yang tersisa dalam batang bambu. Metode paling sederhana biasa dilakukan para pengrajin bambu. Bambu segar yang baru ditebang didirikan terbalik.

Ujung bambu dimasukkan tabung berisi minyak solar, minyak tanah atau oli bekas sebagai bahan pengawet. Metode berikutnya adalah perendaman bambu dalam larutan kimia. Batang dengan ukuran tertentu, direndam selama beberapa hari dalam air yang dicampur bahan pengawet. Lama perendaman tergantung jenis bahan pengawet dan jenis bambu. Bahan pengawet yang digunakan biasanya mengandung arsenik, boraks, antiboriks, dan sejenisnya.

Metode berikutnya adalah Butt Treatment Method. Bagian bawah batang bambu yang baru dipotong diletakkan di dalam tangki berisi larutan pengawet. Ranting dan daun pada batang tidak dibuang. Larutan pengawet tersebut akan mengalir ke pembuluh batang karena proses metabolisme masih berlangsung.

Cara ini dinilai belum efektif. Kapasitasnya masih terbatas. Waktu yang dibutuhkan pun cukup lama. Metode paling mutakhir adalah Boucherie Method. Potongan bambu dimasukkan ke dalam mesin Boucherie. Lewat bagian khusus mesin itu, cairan pengawet dengan konsentrasi terukur dialirkan ke dalam serat bambu dengan tekanan tertentu. Hingga, konsentrasi cairan yang keluar dari bambu sama dengan konsentrasi larutan pengawet. Penggunaan pompa kedap udara (vacuum pressure) bisa mempercepat proses sampai hanya beberapa jam.

Cara ini sering dipakai pabrik atau industri besar. Bambu yang sudah diawetkan menguarkan aroma khas. Setelah semua proses pengawetan usai dan bambu betul-betul kering, barulah siap digunakan sebagai bahan bangunan atau furnitur. Tanpa pengawetan, bambu hanya bertahan maksimal 5 tahun. Sebaliknya, jika perlakuan bambu berjalan baik, mulai dari proses penebangan, penyimpanan, pengawetan, dan perawatan, semua dilakukan dengan benar, bambu bisa bertahan hingga belasan, bahkan puluhan tahun. Untuk perawatannya, produk berbahan bambu tidak boleh kontak langsung dengan tanah dan nateri yang sifatnya lembab, karena bambu bisa membusuk.

Meskipun telah divernis, tak ada salahnya mengulangnya setiap minimal setahun sekali. Jika bambu bukan produk bambu awetan, cara sederhana adalah direndam dalam minyak tanah. Buang debu yang menempel lalu gunakan ampas kelapa, minyak jelantah, oli bekas, atau materi yang bersifat waterproof untuk membuat tampilan bambu lebih mengilap. Lantas tercetus dalam benak kita, betapa pengawetan bambu secara kimiawi ini sungguh mengundang sesuatu yang kontradiktif.

Spirit hijau yang merupakan karakter asli tanaman bambu, berbenturan dengan konsumsi bahan-bahan kimia yang jelas jauh dari sikap go green. Betapa celah itu menganga lebar. Masih dibutuhkan banyak temuan baru, tentang sistem pengawetan bambu yang efektif, efisien, berskala industrial, namun tetap ramah lingkungan. (Diramu dari berbagai sumber.)
Share on Google Plus

Kontak OBIE ABU MUHAFA

Alamat Kantor: Jl.Raya LASWI - Majalaya , Kampung Sukawening Rt.02 Rw.04 ,Desa Padaulun , Majalaya , Kab.Bandung. Buka setiap hari kerja pukul 09.00 - 17.00 WIB (Hari Jumat libur). Tlp./SMS/WA: 085311974548 (Muhamad Romli/Obie), PIN BBM: 54F67D63.

0 komentar anda :

Posting Komentar